Apakah Paulus yang Menjadikan Yesus Tuhan? Jawaban dari Ajaran Yesus Sendiri
Banyak orang menuduh bahwa Paulus-lah yang “mengangkat” Yesus menjadi Tuhan. Mereka berpendapat bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengaku sebagai Tuhan—Yesus hanya menyebut diri-Nya sebagai utusan Allah. Lalu, Paulus dianggap menciptakan teologi baru tentang keilahian Kristus.
Tetapi benarkah demikian?
Jika kita menelusuri ajaran Yesus dari perspektif Yudaisme abad pertama, kita akan menemukan bahwa Yesus sendiri sudah mengajarkan dan melakukan hal-hal yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Paulus bukan pencipta doktrin baru, melainkan penafsir konsisten dari apa yang Yesus sudah nyatakan.
Mari kita periksa bukti-buktinya
1. Yesus Mengampuni Dosa: Otoritas Ilahi yang Eksklusif
Dalam pemahaman Yahudi, mengampuni dosa adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia, nabi, atau imam yang dapat mengampuni dosa dengan otoritas pribadi.
Namun Yesus berkata kepada seorang lumpuh:
“Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” (Markus 2:5)
Respons para ahli Taurat jelas:
“Ia menghujat Allah! Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (Markus 2:7)
Yesus tidak sedang memberi pengajaran moral biasa. Ia sedang mengambil peran yang hanya dimiliki Allah.
Paulus kemudian mengajarkan:
“Di dalam Dia kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa.” (Kolose 1:14)
Paulus hanya menegaskan apa yang Yesus sudah lakukan.
2. Yesus dan Gelar “Anak Manusia” dari Daniel 7
Banyak orang menyangka gelar “Anak Manusia” berarti Yesus adalah manusia biasa. Padahal dalam Daniel 7, Anak Manusia adalah:
sosok surgawi
datang dengan awan kemuliaan
menerima penyembahan (pelach) yang hanya boleh diberikan kepada Allah
memerintah selamanya
Ketika Yesus mengutip Daniel 7 di hadapan Mahkamah Agama:
“Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa…” (Matius 26:64)
Imam besar menuduh-Nya menghujat. Kenapa?
Karena Yesus mengklaim posisi ilahi.
Paulus kemudian menyebut Yesus sebagai:
“Gambar Allah yang tidak kelihatan.” (Kolose 1:15)
Ini bukan ajaran baru. Ini penjelasan dari klaim Yesus sendiri.
3. Yesus Menerima Penyembahan (Pelach), Tidak Menolaknya
Dalam Perjanjian Lama:
Manusia tidak boleh disembah
Malaikat tidak boleh disembah
Nabi tidak boleh disembah
Penyembahan (pelach) hanya untuk Allah
Tetapi Yesus:
Disembah para murid (Matius 14:33; 28:9,17)
Disembah orang buta (Yohanes 9:38)
Disembah sejak awal pelayanan-Nya
Yang menarik:
Petrus menolak ketika Kornelius ingin menyembahnya.
Malaikat menolak penyembahan dalam Wahyu.
Tetapi Yesus tidak menolak penyembahan itu.
Paulus menguatkan tradisi gereja mula-mula:
“Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada…” (Filipi 2:10)
Ini adalah respons wajar terhadap siapa Yesus sebenarnya.
4. Yesus Menyatakan Diri-Nya Setara dengan Bapa
Yesus bersabda:
“Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)
Reaksi para pemimpin Yahudi?
“Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah!” (Yohanes 10:33)
Dan Yesus tidak menarik pernyataannya.
Paulus kemudian menulis:
“Dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” (Kolose 2:9)
Paulus hanya memperjelas apa yang Yesus sudah nyatakan.
5. Yesus Adalah Utusan Allah — dan Sekaligus Ilahi
Orang-orang sering mengatakan:
“Kalau Yesus utusan Allah, berarti Dia bukan Tuhan.”
Ini adalah logika yang salah secara Yahudi.
Dalam pemikiran Yahudi, seorang shalîach (utusan) mewakili otoritas penuh dari pengutusnya. Menjadi utusan tidak bertentangan dengan sifat ilahi—justru menunjukkan misi ilahi.
Yesus adalah:
Sang Firman Allah
Sang Hikmat yang turun dari surga
Sang Anak Manusia ilahi dari Daniel 7
Utusan yang menyandang otoritas Bapa
Paulus tidak “menaikkan pangkat Yesus”.
Paulus hanya menafsirkan apa yang Yesus sendiri nyatakan.
Kesimpulan: Paulus Tidak Menciptakan Doktrin Baru
Jika kita melihat Perjanjian Baru dengan kacamata Yudaisme abad pertama, maka jelas bahwa:
1. Yesus sendiri mengklaim otoritas ilahi
2. Yesus menerima penyembahan ilahi (pelach)
3. Yesus mengampuni dosa, menghakimi dunia, dan menyatakan kesatuan dengan Bapa
4. Paulus hanya menyimpulkan realitas yang Yesus sudah tunjukkan
Jadi tuduhan bahwa Paulus “menginggikan Yesus” adalah keliru.
Bukan Paulus yang meninggikan Yesus—Yesus sendiri yang menyatakan keilahian-Nya sejak awal.